Don’t be SLUGGISH!

Ibnu Mas’ud -Radhiallaahu ‘Anhu: “Sesungguhnya kebaikan itu menjadikan wajah bersinar (berseri-seri), hati bercahaya, rizki lapang, badan kuat dan cinta di hati manusia. Dan sesungguhnya keburukan itu menjadikan wajah hitam (suram), hati gelap, badan lemah, rizki berkurang dan benci di hati manusia.” (Al-Jawaabul Kaafi, karya Ibnul Qayyim hlm 62)

Jangan beri gula & garam hingga bayi berusia 2 tahun

Banyak ibu mengakui, pemberian makan makin mudah jika bayi sudah berusia 1 tahun. Karena jenis makanan yang dikonsumsi sudah sama dengan makanan keluarga. Tapi, ada hal lain yang mesti ibu perhatikan.

Semakin bertambah usia dan tingkat pertumbuhan, gizi yang diperlukan anak akan semakin lengkap. Selain bahan makanan berkualitas, pemenuhan gizi anak juga harus memperhatikan variasi dan cara pengolahan makanan.

“Tidak ada satu jenis makanan pun yang sempurna, sehingga makin bervariasi makanan akan makin baik. Perhatikan pula kualitas makanan di mana gizinya harus lengkap, dan gunakan bahan makanan segar. Pengolahannya juga harus baik, seperti memasak tidak terlalu matang, tidak dihangatkan, dan tanpa penyedap rasa,” jelas dr Fiastuti Witjaksono SpGK usai talkshow ‘Best Parenting for Busy Parents’ yang diselenggarakan Philips Avent di Hotel Gran Melia, Jakarta, baru-baru ini.

Sebagai panduan, dr Fiastuti memaparkan komposisi gizi seimbang dalam satu porsi makanan si kecil, yakni karbohidrat (utamakan karbohidrat kompleks) 50-60 persen, protein 10-25 persen (hewani: nabati = 2 : 1), lemak (SAFA, MUFA, PUFA) 25-40 persen, serta vitamin dan mineral (A,D,E,K,B,C, Ca, dan sebagainya). Namun, dr Fiastuti menegaskan, ada beberapa makanan yang harus dihindari bayi di bawah 1 tahun.

“Beberapa jenis makanan yang sebaiknya dihindari anak usia di bawah 1 tahun, yaitu gula, garam, madu, kacang-kacangan, dan susu sapi. Bahkan makanan ini bisa ditunda hingga anak usia 2 tahun,” tambah spesialis gizi RS Cipto Mangunkusumo ini.

Secara naluriah, diimbuhkan dr Fiastuti, anak pada dasarnya belum mengenal rasa makanan sehingga cenderung tidak memilih makanan. Jika terbiasa mengkonsumsi makanan yang diberi penambah rasa, mereka akan terbiasa dengan rasa tersebut. Alhasil, si kecil hanya mau makan kalau makanannya berasa.

“Tidak perlu ditambahkan rasa asin atau manis. Toh, makanan alami sudah mengandung gula, seperti nasi atau labu. Makin benar orangtua mengajarkan pola makan, maka makin mudah anak menerima makanan karena mereka mudah menyesuaikan dengan pola makan yang diterapkan orangtua,” tukasnya.

Madu sebaiknya tidak diberikan karena beresiko mengandung bakteri Clostridium yang bisa menyebabkan botulisme. Juga kacang-kacangan dan susu sapi yang beresiko menyebabkan alergi pada bayi.

“Kenalkan makanan satu demi satu pada bayi, jangan dicampur. Kemudian, tunggu empat hari untuk memperkenalkan makanan baru lainnya, agar terlihat apakah bayi memiliki reaksi alergi terhadap makanan itu atau tidak,” jelasnya.

No comments yet»

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: