Don’t be SLUGGISH!

Ibnu Mas’ud -Radhiallaahu ‘Anhu: “Sesungguhnya kebaikan itu menjadikan wajah bersinar (berseri-seri), hati bercahaya, rizki lapang, badan kuat dan cinta di hati manusia. Dan sesungguhnya keburukan itu menjadikan wajah hitam (suram), hati gelap, badan lemah, rizki berkurang dan benci di hati manusia.” (Al-Jawaabul Kaafi, karya Ibnul Qayyim hlm 62)

Ikan asin dan kanker nasofaring….

Pengawetan ikan dengan diasinkan adalah cara pengawetan ikan yang telah kuno, tetapi saat ini masih banyak dilakukan orang di berbagai negara. bahkan di Indonesia, ikan asin masih menempati posisi penting sebagai salah satu bahan pokok kebutuhan hidup rakyat banyak, terutama penduduk di kawasan pesisir, walaupun terdapat kecenderungan bahwa konsumsi ikan asin makin menurun.

Cara pengawetan ini merupakan usaha yang paling mudah dalam menyelamatkan hasil tangkapan nelayan. Dengan penggaraman proses pembusukan dapat dihambat sehingga ikan dapat disimpan lama. Penggunaan garam sebagai bahan pengawet terutama diandalkan pada kemampuannya menghambat pertumbuhan bakteri dan kegiatan enzim penyebab pembusukan ikan yang terdapat dalam tubuh ikan.

Tetapi apakah menyehatkan bila ikan asin ini menjadi konsumsi kita sehari-hari ?…….

Mungkin kita harus lebih berpikir panjang untuk mengkonsumsi ikan asin, jika mendengar keterangan dr Aswaldi Ahmad SpTHT dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, yang berpendapat bahwa mengkonsumsi ikan asin bisa memicu timbulnya Kanker Nasofaring. Sedangkan
Menurut Dr. Budianto Komari, Sp.THT, spesialis onkologi THT di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta,mengungkapkan: “konsumsi ikan asin secara terus-menerus dalam dalam jumlah banyak dan dalam jangka waktu lama, rupanya bisa menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya kanker nasofaring.”

Peringatan itu mengemuka dalam seminar yang rutin diselenggarakan oleh RS Dharmais, Selasa pekan lalu. Dalam seminar bertajuk Kanker Nasofaring, Diagnosis dan Pengobatan, Dr. Budianto mengungkapkan bahwa ikan asin merupakan mediator utama yang dapat mengaktifkan virus Epstein-Barr sehingga menimbulkan kanker nasofaring.

Nasofaring adalah bagian dari tenggorokan paling atas, tepatnya di belakang rongga hidung, berbentuk kubus. Bagian depan nasofaring berbatasan dengan rongga hidung, bagian atas berbatasan dengan dasar tengkorak, serta bagian bawah merupakan langit-langit dan rongga mulut. Di daerah Nasofaring terdapat muara saluran yang menghubungkan tenggorokan dan telinga (Tuba Eustachius) dan Adenoid, yaitu jaringan Limfoid yang sering membesar pada anak. Beberapa jaringan saraf yang mengatur fungsi mata dan menelan serta lidah terdapat di sekitar nasofaring.

Virus Epstein-Barr adalah virus yang berperan penting dalam timbulnya kanker nasofaring. Virus yang hidup bebas di udara ini bisa masuk ke dalam tubuh dan tetap tinggal di nasofaring tanpa menimbulkan gejala. Kanker Nasofaring sebenarnya dipicu oleh Zat nitrosamin yang ada dalam daging ikan asin. Zat ini mampu mengaktifkan virus Epstein-Barr yang masuk ke dalam tubuh, sehingga dapat menimbulkan kanker. Nitrosamin tidak hanya ada dalam tubuh ikan asin, tetapi juga terdapat dalam makanan yang diawetkan seperti daging, sayuran yang difermentasi (asinan), serta tauco.

Selain nitrosamin, faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya kanker Nasofaring adalah kedaaan sosial ekonomi, lingkungan, dan kebiasaan hidup yang rendah. Udara yang penuh asap di rumah yang kurang baik ventilasinya, misalnya pembakaran dupa, obat nyamuk, meningkatkan insiden kanker nasofaring. Demikian juga kontak dengan bahan kimia seperti gas kimia, asap industri dan asap kayu. Penyebab lain adalah radang kronis (menahun) di daerah Nasofaring. Peradangan menyababkan selaput lendir nasofaring lebih rentan terhadap karsinogen.

Menurut dr. Aswaldi, Kanker Nasofaring termasuk lima besar tumor ganas di Indonesia. Survei Departemen Kesehatan menunjukkan prevalensi 4,7 per 100.000 penduduk per tahun. Lebih dari 50 persen tumor ganas daerah kepala dan leher adalah kanker Nasofaring. Angka kejadian kanker nasofaring hampir merata di setiap daerah. Di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo Jakarta ditemukan lebih dari 100 kasus setahun, RS Kanker Dharmais Jakarta terdapat 60 kasus, dan RS Hasan Sadikin Bandung rata-rata 60 kasus setahunnya. Di Makassar terdapat 25 kasus, Denpasar ada 15 kasus, dan Padang sebanyak 11 kasus.Penyakit ini ditemukan terutama pada usia 40-50 tahun. Sejauh yang ditemukan, penderita paling muda delapan tahun, yang tertua 83 tahun. Walau insidennya tinggi, kanker ini kurang populer karena tumbuh di tempat tersembunyi dan pada stadium dini tak menimbulkan gejala yang khas, sehingga pasien ataupun dokter tak menyadari. Ras kulit putih sangat jarang terkena penyakit ini. Di Asia yang terbanyak adalah bangsa Cina, baik di negara asal maupun di negara perantauan. Ras Melayu-Indonesia dan Malaysia-termasuk yang agak banyak terkena.

Kanker nasofaring, yang lebih banyak ditemui pada laki-laki, merupakan tumor ganas. Kanker nasofaring merupakan tumor ganas pada daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia.

Sekitar 70 persen dari benjolan di leher bagian atas adalah kanker nasofaring. Berdasarkan data laboratorium patologi anatomi, tumor ganas nasofaring menduduki peringkat keempat dari seluruh keganasan setelah kanker rahim, payudara dan kulit.

Sayangnya, sekitar 60-95 persen penderita kanker nasofaring datang pada stadium III-IV. Bila hal ini terjadi, terapi radiasi sebagai treatment of choice akan lebih baik jika dikombinasi dengan kemoterapi.

Serang epitel skuamosa
Nasofaring merupakan daerah yang sulit dilihat dan dirasakan sehingga secara klinis disebut sebagai daerah gelap di pertengahan dasar tengkorak.
”Nasofaring dilapisi epitel skuamosa berbentuk gepeng. Kanker itu menyerang lapisan tersebut,” ujar Dr Budianto Komari SpTHT, ahli onkologi THT RS Kanker Dharmais (RSKD) Jakarta. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kanker nasofaring dibagi menjadi tiga kategori. Karsinoma (kanker) nasofaring tipe-1 yaitu karsinoma sel skuamosa dengan keratin (berlapisan tanduk), tipe-2 yang tak ada keratin, dan tipe-3 yang tanpa deferensiasi. Dari ketiga kategori tersebut, Budianto menilai, hanya kategori ke-2 dan ke-3 yang bersifat radiosensitif.
Adapun tingkatan dari kanker ini adalah:
1. Stadium 0: Sel-sel kanker masih berada dalam batas nasopharing, biasa disebut dengan nasopharynx in situ
2. Stadium 1: Sel kanker menyebar di bagian nasopharing
3. Stadium 2: Sel kanker sudah menyebar pada lebih dari nasopharing ke rongga hidung. Atau dapat pula sudah menyebar di kelenjar getah bening pada salah satu sisi leher.
4. Stadium 3: Kanker ini sudah menyerang pada kelenjar getah bening di semua sisi leher
5. Stadium 4: kanker ini sudah menyebar di saraf dan tulang sekitar wajah.
Dari tingkatan-tingkatan inilah dokter dapat menentukan jenis pengobatan yang tepat bagi penderita.

Gejala Kanker Nasofaring

Gejala yang timbul berhubungan erat dengan lokasi tumor di nasofaring dan derajat penyebarannya, yaitu:

1. Pembesaran kelenjar leher. Gejala ini paling sering ditemukan. Pembesaran ini teraba keras dan tak nyeri.

2. Gejala di hidung dapat merupakan gejala dini dari kanker ini. Tetapi, gejala ini tidak khas. Seperti hidung tersumbat, pilek dengan ingus yang kental, mimisan ringan yang kadang bercampur ingus sehingga berwarna merah jambu, atau terdapat garis-garis halus.

3. Gejala di telinga berupa gangguan pendengaran, rasa penuh di telinga, seperti ada cairan, suara berdenging. Gejala ini merupakan gejala dini dan harus merupakan perhatian apabila gejalanya menetap atau sering hilang-timbul tanpa penyebab yang jelas.

4. Gejala pada saraf timbul akibat perluasan kanker ke otak. Gejala ini berupa gangguan penglihatan, kelumpuhan otot-otot mata seperti mata juling dan penglihatan ganda. Dapat pula menimbulkan rasa kebas pada separuh wajah atau nyeri kepala. Selain itu, dapat berupa gangguan menelan dan kelumpuhan otot lidah. Jika gejala ini timbul, maka merupakan gejala lanjut.

5. Gejala akibat penyebaran jauh. Sel-sel kanker dapat menyebar melalui aliran darah limfa. Organ yang sering terkena adalah tulang, paru, dan hati. Ini merupakan stadium lanjut.

Penyebab
Pada umumnya kanker disebabkan karena adanya pertumbuhan sel kanker yang tidak terkontrol. Kanker dapat juga timbul karena adanya faktor keturunan (genetik), lingkungan, dan juga virus. Kanker nasopharing disebabkan karena adanya perkembangan sel kanker yang tidak terkontrol di bagian nasopharing. Namun pada banyak kasus, nasopharing carsinoma disebabkan karena adanya faktor keturunan (genetik).

Adapun faktor resiko penyebab adanya kanker nasopharing, antara lain:
1. Makan makanan asin
Pada banyak kasus di Cina, nasopharing carsinoma disebabkan dari makan ikan asin.

2. Virus
Beberapa virus menimbulkan tanda dan gejala seperti demam. Beberapa virus memiliki kemungkinan akan timbulnya kanker nasopharing. EBV-Virus biasanya yang menyebabkan kanker.

3. Keturunan
Dalam keluarga dengan riwayat terkena kanker -terutama kanker nasophariing- besar kemungkinan untuk terkena kanker nasopharing daripada yang tidak memiliki riwayat keluarga terkena kanker.

Ada lagi faktor yang memperbesar timbulnya kanker, seperti merokok dan mengkonsumsi alkohol. Kedua hal ini memungkinkan resiko terkena kanker.

Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosa diperlukan pemeriksaan kelenjar getah bening( palpasi: terasa membengkak). Beberapa tanda dan gejala dari kanker ini memang tidak terlalu spesifik. Pemeriksaan ini mungkin akan berlangsung selama beberapa bulan.
Jika dicurigai terjadinya kanker, dilakukan inspeksi menggunakan endoskop untuk melihat nasopharing yang abnormal tersebut. Dalam penggunaannya diperlukan anestesi lokal. Setelah itu, diambil biopsy (sampel) yang kemudian diuji apakah merupakan kanker.

Kemudian akan ditentukan stadium kanker itu dengan cara:
-MRI (membantu melihat kanker yang menyebar di sekitar kepala)
-CT scan (melihat kanker yang tersebar pada tulang)
-Pengambilan biopsy: ini digunakan untuk melihat kanker yang berada di kelenjar getah bening.
-Sinar X(melihat kanker yang menyebar di bagian paru-paru)

Terapi
Terapi diberikan sesuai dengan kondisi penyakitnya. Diagnosis dapat dilakukan dengan biopsi nasofaring lewat anestesi lokal dan alat endoskop dari rongga hidung. Umumnya pengobatan untuk kanker nasofaring adalah radioterapi. Namun, bila kankernya sudah menyebar ke organ lain, terapi radiasi yang diberikan terbatas. Maka, di sini perlu dikombinasikan dengan kemoterapi. Kemoterapi diberikan untuk menghambat penyebaran kanker ke kelenjar getah bening leher dan kasus lainnya.

Biasanya pengobatan pada stadium I dan II dilakukan dengan radiasi (stadium II dikombinasikan kemoterapi). Sedangkan, pada stadium III dan IV pasien harus menjalani kemoterapi. Berdasarkan angka ketahanan hidup (dalam jangka waktu 5 tahun) untuk stadium I-II adalah 76 persen. Untuk stadium lanjut kurang dari 40 persen.

Penelitian yang dilakukan Soetjipto pada 1989 di RSCM mendapatkan, sebanyak 50 persen penderita kanker nasofaring stadium lanjut meninggal dalam tahun pertama setelah radiasi. Sementara itu, penelitian Soesworo pada 1990 di tempat yang sama menunjukkan hasil pengobatan radiasi pada kanker ini selama satu tahun. Yaitu, angka ketahanan hidup untuk stadium I sebesar 100 persen, stadium II sebesar 86,73 persen, stadium III sebesar 71,67 persen, dan stadium IV sebsar 41,60 persen.

Meski kanker nasofaring lebih banyak disebabkan virus, menurut Budianto, pemberian terapi antiviral (antivirus) memberikan hasil yang tidak memuaskan. Jadi, kemoterapi tak perlu dicampur dengan penggunaan antiviral. Makanan terus diberikan untuk mempertahankan kondisi dan meningkatkan imunitas.

Pengobatan
Beberapa macam pengobatan untuk penderita nasopharing carsinoma, antara lain:
1. Terapi Radiasi
Terapi ini dapat merusak dengan cepat sel-sel kanker yang tumbuh. Terapi ini dilakukan selama 5-7 minggu. Terapi ini digunakan untuk kanker pada tingkatan awal.
Efek samping dari terapi ini adalah: mulut terasa kering, kehilangan pendengaran dan terapi ini memperbesar resiko timbulnya kanker pada lidah dan kanker tulang.

2.Kemoterapi
Merupakan terapi dengan menggunakan bantuan obat-obatan. Terapi ini bekerja dengan cara mereduksi sel-sel kanker yang ada, namun adakalanya sel-sel yang sehat (tidak terkena kanker) juga tereduksi.
Efek samping dari terapi ini adalah: rambut rontok, mual, lemas(seperti kehilangan tenaga). Efek samping yang timbul tergantung pada jenis obat yang diberikan.

3.Pembedahan
Tujuan dari pembedahan ini adalah untuk mengambil kelenjar getah bening yang telah terkena kanker.

Daftar Pustaka
Soepardi, Efiaty Arsyad dkk. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi keenam. Jakarta: 2007, FKUI.
http://www.emedicine.com/radio/topic551.htm
http://www.mayoclinic.com/health/nasopharyngeal-carcinoma
http://www.utmb.edu/otoref/Grnds/Nasophar-CA-980121/Nasophar-CA-980121.htm
http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1088494840,71243,

2 Comments»

  yodama wrote @

waduw…. ternyata ya, gak disangka
alhamdulillah sekarang agak jarang makan iwak asin.

padahal sedap juga sebenarnya…tapi kalo cuma makan sekali-sekali gmn (gk rutin gitu)? bisa berdampak kanker jg?

  ery2 wrote @

kl sedikit and ga sering..insya Alloh ga pa2..kanker dpt trjadi krn adanya akumulasi virus yg dah bisa merubah DNA sel…so terjadi mutasi gen yg menyebabkan pembelahan sel terus menerus…
wallohualam bishowab…


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: