Don’t be SLUGGISH!

Ibnu Mas’ud -Radhiallaahu ‘Anhu: “Sesungguhnya kebaikan itu menjadikan wajah bersinar (berseri-seri), hati bercahaya, rizki lapang, badan kuat dan cinta di hati manusia. Dan sesungguhnya keburukan itu menjadikan wajah hitam (suram), hati gelap, badan lemah, rizki berkurang dan benci di hati manusia.” (Al-Jawaabul Kaafi, karya Ibnul Qayyim hlm 62)

KISAH Antara KETIAK, Deodoran & KANKER !

 Ceritera ngeri soal deodoran dan kanker muncul lagi. Kali ini melibatkan senyawa kimia sintetik bernama paraben.

Apa yang bisa kita lakukan agar aman?

Kaitan antara deodoran dan kanker payudara, adalah kisah yang sulit ditepis begitu saja. Tentunya, ada beberapa alasan.

Pertama, teori yang muncul pada tahun 1970-an, menyatakan: Bila kita menekan jumlah keringat yang dikeluarkan tubuh –terutama di bagian ketiak– dengan mengoleskan deodoran antiperspiran (antikeringat), akan mengakibatkan penumpukan toksin yang memicu timbulnya kanker getah bening.

Kedua, pada tahun 1990-an beredar dugaan, senyawa alumunium yang jamak ditemui dalam deodoran, bisa mengakibatkan kerusakan DNA yang ujung-ujungnya menimbulkan penyakit kanker payudara.

Ketiga, sejumlah ahli beberapa kali melakukan penelitian untuk membuktikan wanita yang sering mencukur ketiaknya, kemudian mengoleskan deodoran antiperspiran, lebih rentan terkena kanker payudara.

Keempat, hasil penelitian yang diumumkan Dr. Philippa Darbre, Februari 2004. Senyawa kimia sintetik paraben –yang biasa digunakan dalam kosmetik/deodoran agar tahan lama– ditemukan dalam 18 dari 20 kasus tumor payudara.

Dr. Darbre, dosen senior bidang onkologi di Universitas Reading, Inggris, menegaskan, ?Senyawa paraben memicu pertumbuhan tumor pada jaringan payudara manusia.?

Jadi, sebaiknya, Anda mulai menanggapi rumor soal deodoran dan kanker ini secara lebih serius lagi.

***

Deodoran dan antiperspiran sebenarnya bekerja dengan cara yang berbeda.

Antiperspiran  mengandung senyawa alumunium yang berfungsi menekan jumlah keringat yang dikeluarkan tubuh.

Orang menggunakan deodoran atau antiperspiran untuk mengurangi bau tidak sedap. Bau tidak sedap itu biasanya keluar pada bagian-bagian tubuh tertentu saat berkeringat.

Baik deodoran maupun antiperspiran sama-sama bekerja dengan cara membunuh bakteri-bakteri, yang menimbulkan bau badan. Perbedaannya, antiperspiran selain membunuh bakteri juga bertugas mengurangi jumlah keringat yang dihasilkan kelenjar apocrine.

Keringat pada kelenjar inilah yang bisa menimbulkan bau badan ketika bereaksi dengan bakteri yang ada di permukaan kulit.

Pada kondisi normal, ketiak mengeluarkan rata-rata 400-500 mg keringat setiap 20 menit, pada suhu 35 derajat Celcius. Antiperspiran mampu mengurangi jumlah produksi keringat 20-25 persen, atau maksimal 40 persen dari produksi normal. Itu dilakukan dengan cara mempersempit pori-pori kulit tempat keluarnya keringat. Cairan keringat yang tertahan kemudian diserap kembali (resobsi) oleh jaringan kulit.

Kemampuan antiperspiran terutama disebabkan oleh kandungan bahan aktif. Semua jenis deodoran antikeringat biasanya mengandung beberapa senyawa aktif yang berbasis pada unsur aluminium. Jika Anda membaca bagian belakang kemasan deodoran antikeringat, bahan-bahan seperti almunium chlorohydrate, almunium chloride, almunium hydroxibromyde, dan almunium zirconium trichlorohydrex gly, adalah bahan-bahan yang paling umum digunakan.

Bagaimana dengan deodoran?

Deodoran tidak berfungsi menekan jumlah keringat yang dikeluarkan tubuh, tetapi mengandung: wangi-wangian, untuk menghilangkan bau badan, dan bahan-bahan kimia seperti triclosan atau alkohol yang membunuh bakteri-bakteri yang menimbulkan bau badan. 

Secara umum, deodoran dilengkapi antibiotik topikal, mencegah dekomposis bakteri dengan membuah atau menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Antibiotika topikal seperti gentamisin, neomisin, basitrasin terbukti cukup efektif sebagai antibakteri, tapi perlu diwaspadai adanya kemungkinan menimbulkan efek samping berupa alergi, terutama pada pemakaian neomisin.

Saat ini, produk-produk yang laris di pasaran, rata-rata mengombinasikan deodoran dan antiperspiran.

***

Apa tanggapan perusahaan kosmetik?

Dr.Chris Flowers, Direktur Umum Asosiasi Perusahaan Kosmetik dan Parfum, Inggris, mengatakan kaitan antara deodoran, antiperspiran dan paraben dengan kanker tidak beralasan. Apalagi jumlah sampel dalam penelitian tersebut sangat terbatas.

?Sejumlah produk deodoran memang mengandung paraben. Tetapi, senyawa kimia ini juga digunakan dalam produk makanan, dan beberapa jenis kosmetik lain seperti moisturizer. Fungsinya sebagai bahan pengawet terbukti sangat efektif dan aman.? 

Namun, beberapa mereka terkenal, seperti: Sure, Right Guard, Nivea, Sanex, Amplex, Dove dan Vaseline Intensive Care,  sama sekali tidak menggunakan senyawa kimia paraben dalam produk-produk mereka.

Jika Anda membaca bagian belakang kemasan produk kosmetik, senyawa paraben bisa ditengarai dengan sebutan: methyl-, ethyl-, propyl- atau butyl-parabens.

Lebih lanjut, Dr. Darbre mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir sejumlah perusahaan kosmetik sebenarnya sudah menghilangkan senyawa paraben dalam formulasi produk mereka.

?Sebaiknya Anda bertanya pada diri sendiri, mengapa mereka melakukan itu, jika paraben benar-benar aman??

Dr. Flower membantah pernyataan Dr. Darbre dengan menyatakan bahwa senyawa kimia sintetik paraben sebenarnya terdapat dalam sejumlah produk selain deodoran dan kosmetik. ?Kalau toh benar ada kaitan antara paraben dan kanker, mengapa hanya kanker payudara yang disebutkan??

?Paraben sudah digunakan secara luas lebih dari 50 tahun, dan kami punya banyak data yang menunjukkan bahwa senyawa ini aman digunakan.?

Senada dengan Dr. Flower, ahli kimia dan penulis buku Cosmetics Unmasked, Dr. Stephen Antczak –yang menulis petunjuk panjang lebar soal efek bahan-bahan kimia dalam kosmetik bagi kesehatan– menolak kaitan antara paraben, antiperspiran dan kanker.

?Banyak sekali bukti menunjukkan antiperspiran tak berkaitan dengan kanker payudara,? ujarnya.   

?Sebagai contoh, kanker payudara jarang ditemui di kalangan wanita Jepang yang tinggal di Jepang. Tetapi, wanita Jepang yang tinggal di Amerika dan mengonsumsi makanan ala Amerika, terkena kanker payudara sama seperti rata-rata wanita Amerika. Padahal, senyawa antiperspiran digunakan secara luas baik di Jepang maupun Amerika. Jadi, kosmetik bukanlah faktor risiko yang signifikan. Makanan yang dikonsumsi lebih berperan besar dalam memicu timbulnya kanker.?   

Dr. Antczak menegaskan pula, keberadaan senyawa paraben dalam sel kanker tidak berarti senyawa ini menyebabkan kanker.

?Sejujurnya, saya malah terkejut jika paraben tidak ditemukan di dalam tumor, sebab banyak sekali obat-obatan –yang digunakan untuk mengobati kanker– mengandung paraben. Obat-obatan ini, biasanya disuntikkan langsung pada tumor atau sel-sel tumor,? katanya.  

***

Hmm.., Anda malah bingung dengan perdebatan tersebut?

Seandainya, sekarang Anda jadi tidak nyaman menggunakan produk kosmetik yang mengandung senyawa kimia sintetik, terutama untuk ketiak, sebaiknya menggunakan cara alternatif.

The Woman?s Enviromental  Network, baru-baru ini melakukan investigasi soal bahan-bahan kimia berbahaya dalam kosmetik. Hasilnya, mereka mengumumkan sejumlah produk kosmetik yang bebas paraben dan zat-zat kimia sintetik lainnya dalam situs www.wen.org.uk

Atau, Anda mau menerapkan pilihan lain, seperti yang dilakukan Dr. Darbre.?

Begitu memulai riset tentang deodoran tujuh tahun lalu, aku berhenti menggunakan deodoran,? ujarnya. ?Tentu saja aku tidak bisa melarang orang untuk menggunakan peroduk-produk itu. Tetapi secara pribadi aku menyarankan, sebaiknya Anda berhenti menggunakan deodoran terutama yang mengandung senyawa paraben.?

Dua kali sehari, aku membersihkan ketiak menggunakan sabun dan air. Dan.., sejauh ini tidak ada keluhan (soal baunya).?

Upaya lain mengurangi bau ketiak adalah dengan menghapus keringat dari permukaan kulit. Selain, dengan mencuci ketiak seperti yang dilakukan Dr. Dabre, mencukur bulu ketiak juga perlu dilakukan untuk mengurangi keringat yang terperangkap di sana. Sebaiknya juga sering mengganti pakaian dalam.

Meski telah mencoba cara-cara di atas, bahkan telah mencoba pula mengombinasikannya, ada kalanya hasilnya kurang memuaskan. Jika ini yang terjadi, agaknya perlu dipertimbangkan untuk dilakukan operasi pengangkatan kelenjar keringat. Ada dua cara untuk operasi ini, yaitu dengan mengangkat kelenjar keringat yang hipraktif saja, atau dengan cara mengangkat seluruh kelenjar keringat di ketiak. (zrp/The Sunday Times

Maraji’

http://www.depkes.go.id

No comments yet»

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: