Don’t be SLUGGISH!

Ibnu Mas’ud -Radhiallaahu ‘Anhu: “Sesungguhnya kebaikan itu menjadikan wajah bersinar (berseri-seri), hati bercahaya, rizki lapang, badan kuat dan cinta di hati manusia. Dan sesungguhnya keburukan itu menjadikan wajah hitam (suram), hati gelap, badan lemah, rizki berkurang dan benci di hati manusia.” (Al-Jawaabul Kaafi, karya Ibnul Qayyim hlm 62)

Pelajaran dari Syaqiq Al Bakhri Rahimahullah..

Di antara sifat-sifat para ulama akhirat, mereka mengetahui bahwa dunia ini hina sedangkan akhirat adalah mulia. keduanya seperti dua macam kebutuhan pokok, namun mereka lebih mementingkan akherat. Perbuatan mereka tidak bertentangan dengan perkataan, kecenderungan mereka hanya kepada ilmu-ilmu yang bermanfaat di akhirat dan menjauhi ilmu-ilmu yang manfaatnya lebih sedikit, karena lebih mementingkan ilmu yang lebih besar manfaatnya, sebagaimana yang diriwayatkan dari Syaqiq Al Bakhri Rahimahullah, bahwa dia pernah bertanya kepada Hatim:”Sudah seberapa lama engkau menyertai aku. Lalu apa saja pelajaran yang bisa engkau serap?”

Hatim menjawab : “Ada delapan macam:

1. Aku suka mengamati manusia.

Ternyata setiap orang ada yang dicintainya. Namun jika dia sudah dibawa ke kuburannya, toh dia harus berpisah dengan sesuatu yang dicintainya. Maka kujadikan yang kucintai adalah kebaikanku, agar kebaikan itu tetap menyertaiku di kuburan..

2. Kuamati Allah SWT yang telah berfirman:

“…dan menahan diri dari keinginan dan hawa nafsu.” (An-Naziat:40)

sebisa mungkin aku menhenyahkan hawa nafsu, hingga jiwaku menjadi tenang karena taat pada Allah SWT.

3. Setelah kuamati aku tahu bahwa setiap orang mempunyai sesuatu yang bernilai dalam pandangannya, lalu dia pun menjaganya. Kemudian kuamati firman Allah SWT.

” Apa yang di sisi kalian akan lenyap dan apa yang disisi Allah SWT adalah kekal.”(An-Nahl: 96)

setiap kali aku mempunyai sesuatu yang berharga , maka aku segera menyerahkannya pada Allah.SWT. Agar ia kekal disisiNYa untukku.

4. Kulihat banyak orang yang kembali pada harta, keturunan, kemuliaan, dan kedudukannya. Padahal semua ini tidak ada artinya apa-apa. Lalu kuamati firman Allah SWT.:

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah SWT adalah orang yang paling bertagwa di antara kalian.” (Al Hujurat: 13)

Karena aku beramal dalam lingkup tagwa,agar aku menjadi mulia disisiNya.

5. Kulihat manusia sering iri dan dengki. Lalu kuamati firman Alloh SWT,

“Kami telah menetukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia”. (Az-Zukhruf: 32)

Kareni itu kutinggalkan sifat iri dan dengki.

6. Kulihat mereka saling bermusuhan. Lalu kuamati firman Alloh SWT,

”Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka anggaplah ia musuh kalian.”

(Fathir: 6)

Karena itu aku tidak mau bermusuhan dengan mereka dan hanya setan semata yang kujadikan musuh.

7. Kulihat mereka menghinakan diri mereka dalam mencari rizki. Lalu kuamati firman Alloh SWT,

Dan, tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Alloh lah yang memberi rizkinya.”(Hud: 6)

Karena itu aku menyibukkan diri dalam perkara yang memang menjadi kewajibanku terhadap Alloh SWT dan aku biarkan apa yang menjadi hakku disisiNya.

8. Kuamati mereka mengandalkan perdagangan , usaha dan kesehatan badan mereka. Tapi aku mengandalkan Alloh SWT dengan bertawakal kepadaNya.

Maraji’

Ibnu Qudamah. 2007. Minhajul Qashidin. Darul Fikr. Jakarta. Hal.21-22

No comments yet»

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: